Lost Password? Register
  • Narrow screen resolution
  • Wide screen resolution
  • Auto width resolution
  • Increase font size
  • Decrease font size
  • Default font size
  • default color
  • red color
  • green color
Login & Register Here
Home arrow News arrow Content Category arrow Berita Islam arrow Kapitalisme Yang Gagal
Kapitalisme Yang Gagal PDF Print E-mail
Written by admin   
Tuesday, 21 October 2008
ImageTak dapat di sangkal lagi, memang kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang kini tengah berjaya di tingkat global terutama setelah momentum hancurnya sosialisme di awal 1990-an. Hampir seluruh negara di dunia, menerapkan system kapitalisme dengan pelbagai penyesuaian. Ramai yang memandang keutuhan dan kebaikan yang yang ada pada sistem ini, hinggakan Negara-negara Islam pun tidak lepas daripada mengamalkannya. Sesetengah beranggapan Kapitalisme mampu memberikan kesejahteraan. Tetapi krisis ekonomi global baru-baru ini telah membuka mata ramai manusia akan ketidakstabilan kapitalisme.

 

Namun para pemuja fanatik kapitalisme lupa untuk menyoal, siapa yang menikmati kesejahteraan itu. Sebagian besarnya hanya dinikmati negara-negara penjajah kaya. Ertinya, kapitalisme telah gagal secara total dalam pembahagian pendapatan global. Pada tahun 1960, 20 % penduduk dunia terkaya menikmati 75 % pendapatan dunia; sedang 20 % penduduk termiskin hanya menerima 2,3 % pendapatan dunia. Pada tahun 1997 ketempangan global itu bukannya makin berkurangan tapi makin parah. Sebanyak 20 % penduduk terkaya itu menikmati pendapatan global makin banyak, yakni 80 %. Sedang 20 % penduduk termiskin menerima pendapatan global makin sedikit, yakni menjadi 1 % saja (Spilanne, 2003).

 

Tak hanya gagal dalam pembahagian kekayaan, kapitalisme sesungguhnya saat ini tengah meluncur menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda kerapuhan kapitalisme makin terlihat. Harry Shutt dalam bukunya Runtuhnya Kapitalisme (2005) menyebutkan bahwa kapitalisme kini sedang mengalami "gejala-gejala utama kegagalan secara sistemik". Misalnya, semakin lesunya pertumbuhan ekonomi dan semakin seringnya krisis kewangan.

 

Krisis kewangan global yang terjadi hingga detik ini belum menunjukkan tanda-tanda reda. Krisis yang dipicu oleh kredit macet di bidang properti (subprime mortgage) di AS itu kini menjalar ke mana-mana. Korban pertama dari kredit kekacauan tersebut adalah dua hedge fund (pengelola dana investment) yang dikelola oleh Bear Stearns. Perusahaan tersebut kerugian pada July 2007. Disusuli kemudiannya dengan jatuhnya Morgan Stanley pada November 2007, dan meruginya bank-bank global senilai 55 juta dolar AS. Sekalipun perusahaan milik Uni Emirat Arab telah menyuntik 9,5 juta dolar AS ke Citigroup, namun tetap tidak mampu menyelamatkan keadaan. Tidak hanya itu, Cina pun menyuntik 5 juta dolar AS ke Morgan Stanley, termasuk Temasek Holding Singapura juga melakukan hal yang sama ke Merrill Lynch. Bahkan hutang-hutang bermasalah itu sudah dihapus oleh bank-bank global (seperti Citigroup, UBS dan HSBC), yang nilainya mencapai 300 miliar dolar AS, pada Januari-Februari 2008.

 

Melihat fenomena-fenomena yang tragis tersebut, maka tidak menghairankan apabila sejumlah pakar ekonomiter kemuka, mengkritik dan meragui kemampuan ekonomi kapitalisme dalam mewujudkan kemakmuran ekonomi di muka bumi ini. Bahkan cukup banyak komentar yangmenyebutkan bahwa kapitalisme telah gagal sebagai sistem dan model ekonomi.

 

Contoh Perbandingan Sistem Islam

 

Kapitalis menggunakan Fiat money (mata wang kertas) adalah wang kertas yang secara legal diakui pemerintah melalui perintah sebagai wang resmi, tapi tidak disandarkan kepada logam seperti emas dan perak.

 

Wang kertas itulah yang sekarang digunakan oleh negara-negara kapitalis seperti Amerika Serikat. Sejak berakhirnya sistem Bretton Woods yang mengaitkan dolar dengan emas (1 ounce/28,35 gram emas = 35 dolar AS) pada tahun 1970-an, dolar AS tidak disandar lagi dengan emas dan dapat berlaku hanya kerana kepercayaan (trust) orang pada dolar. Seiring dengan dominasi kapitalisme AS, mata wang dolar kini menjadi salah satu mata wang kuat (hard currency) dunia yang digunakan sebagai standard nilai dan alat pembayaran dalam perdagangan internasional.

 

Sistem wang kertas ini merupakan salah satu akar kerapuhan kapitalisme. Betapa tidak, sebab bila dibandingkan dengan mata wang Islam (dinar dan dirham), wang kertas sesungguhnya mempunyai kelemahan mendasar, antara lain selalu terkena inflasi jangka panjang (Hamidi, 2007). Di samping itu wang kertas jauh dari nilai keadilan (fairness) lantaran nilai intrinsiknya tidak sama dengan nilai nominalnya.

 

Mengenai inflasi tetap, perhatikan ilustrasi berikut. Misalan Anda meminjamkan wang kepada teman Anda tahun ini sebesar RM 100 juta. Teman Anda akan mengembalikan sejumlah RM 100 juta juga tapi 10 tahun lagi. Samakah nilai RM 100 juta, dengan RM 100 juta untuk 10 tahun lagi? Jelas tidak sama, kerana wang kertas ini akan mengalami depresiasi (penurunan nilai) kerana inflasi tetap. Inilah kelemahan mendasar wang kertas.

 

Mata wang Islam (dinar dan dirham) berbeza dengan mata wang kapitalisme. Dinar dan dirham terbukti dalam sejarah sangat kecil sekali inflasinya. Di masa Rasulullah SAW dengan wang 1 dinar (4,25 gram emas) orang dapat membeli seekor kambing, dan dengan wang 1 dirham (2,975 gram perak) dapat dibeli seekor ayam. Pada masa sekarang ini di tahun 2007, dengan wang yang senilai 1 dinar orang masih dapat membeli seekor kambing. Dengan wang senilai 1 dirham orang sekarang masih dapat membeli seekor ayam. Luar biasa, bukan?

 

Momentum ini seharusnya menyadarkan kita, bahwa hanya Islamlah satu-satunya ideologi yang bisa menyelamatkan dunia. Sistem Islam yang di turunkan Allah merupakan satu-satunya deen yang di redhoi dan bersesuaian dengan keperluan manusia sejagat. Sesuai dengan banyak firman Allah, yang mengatakan bahwa ‘deen yang di redhoi adalah Islam’, ‘rahmatan lil alamin’ dan banyak lagi.

 

Ayuh, runtuhkan Jahiliyyah, tegakkan syariat Islam

» Post Comment
Only registered users can write a comment.
Please login or register.
» 4 Comments
1Comment
at Wednesday, 22 October 2008 00:53by ProfHussaini
Terpegun dengan perbandingan nilai membeli kambing zaman Ar-Rasul dan kini... 
 
Bukankah kita sangat selalu diberitahu tentang nilai Nasi Lemak, 15 tahun lalu dan kini, 30sen dan RM1.50, sangat ketara bezanya...
2"Tanda2 kiamat"
at Wednesday, 22 October 2008 08:29by Faiz
Betul apa yg dituliskan dlm artikel ni 
Dasar kapitalis yg merosakkan umat manusia sejagat 
Kepetingan duniawi dikejarkan akhirat ditinggalkan
3Comment
at Thursday, 23 October 2008 01:11by saya
takbirr
4Comment
at Friday, 12 December 2008 12:03by Azizul
From A Splendid Exchange: How Trade Shaped the World by William J. Bernstein 
"There is also the issue of money over millennia. The basic unit of currency of the premodern world was remarkably constant: a small gold coin weighing approximately four grams-one-eighth of an ounce-and about the size of a present-day American dime, appearing in various times and places as the French livre, Florentine florin, Spanish or Venetian ducat, Portuguese cruzado, dinar of Muslim world, Byzentine bezant, or late-Roman solidus. At the current price of gold (2008), this corresponds to a modern value of roughly eighty American dollars. The three major exeptions to this rule were the Dutch guilder, which weighed about one-fifth as much, and the English one-pound sivereign and the early Roman aureus, each of which weighed twice as much. The Muslim dirham, Greek drachma and Roman denarius were silver coins of roughly the same size and weigh, each equivalent to the daily wage of a semiskilled worker,
 
< Prev   Next >