|
Oleh: Drs. DH Al Yusni
Wahai Saudaraku yang dikasihi Allah.
Perjalanan dakwah yang kita lalui ini bukanlah perjalanan yang
banyak ditaburi kegemerlapan dan kesenangan. Ia merupakan perjalanan
panjang yang penuh tantangan dan rintangan berat.
Telah banyak sejarah orang-orang terdahulu sebelum kita yang merasakan
manis getirnya perjalanan dakwah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang
harus berpisah kaum kerabatnya. Ada pula yang diusir dari kampung
halamannya. Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang telah mengukir
bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah
merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap
dakwah.
Cobalah kita tengok kisah Dzatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu
Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya –semoga Allah swt. meridhai
mereka. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki mereka robek dan
kuku tercopot. Namun mereka tetap mengarungi perjalanan itu tanpa
mengeluh sedikitpun. Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena
keikhlasan dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam
pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini. Buat
selamanya.
Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah
ini menjadi suri teladan bagi kita sekalian. Karena kontribusi yang
telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh bersemi. Dan, kita pun
dapat memanen hasilnya dengan gemilang. Kawasan Islam telah tersebar ke
seluruh pelosok dunia. Umat Islam telah mengalami populasi dalam jumlah
besar. Semua itu karunia yang Allah swt. berikan melalui kesungguhan
dan kesetiaan para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka.
Duhai saudaraku yang dirahmati Allah swt.
Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam surat At-Taubah: 42.
Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah
diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka
mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh
mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup
tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri
mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka
benar-benar orang-orang yang berdusta.
Mereka juga telah melihat siapa-siapa yang dapat bertahan dalam
mengarungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat
mengokohkan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya
sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis
menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kesuksesan.
Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada
barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya
berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan
dan kesukaran. Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.
Saudaraku seperjuangan yang dikasihi Allah swt.
Sebaliknya orang-orang yang rentan jiwanya dalam perjuangan ini
tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya
perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya
dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut.
Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya
berguguran satu per satu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.
Penyakit wahan telah menyerang mental mereka yang rapuh
sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan
sunnah dakwah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka
bahwa perjuangan dakwah tidaklah harus mengalami kesulitan.
Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah
orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati
mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam
keragu-raguannya. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka
menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak
menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka,
dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang
tinggal itu.” (At-Taubah: 45-46)
Kesetiaan yang ada pada mereka merupakan indikasi kuat daya
tahannya yang tangguh dalam dakwah ini. Sikap ini membuat mereka stand
by menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat
menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai
prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya, ia
senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun.
Atau bila ditempatkan pada bagian belakang, ia akan berada pada
tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan
Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang prajurit yang baik.
Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.
Marilah kita telusuri perjalanan dakwah Abdul Fattah Abu Ismail,
salah seorang murid Imam Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas
dakwahnya tanpa keluhan sedikitpun. Dialah yang disebutkan Hasan Al
Banna orang yang sepulang dari tempatnya bekerja sudah berada di kota
lain untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk
mengisi pengajian dari waktu ke waktu secara maraton. Ia selalu
berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah
dakwah. Sesudah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, ia merupakan
orang yang pertama kali datang ke tempatnya bekerja. Malah, ia yang
membukakan pintu gerbangnya.
Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah
Zainab Al-Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu,
tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah
menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail
pamit untuk ke kota lainnya. Karena keletihan yang dialaminya, Zainab
Al Ghazali memberikan ongkos untuk naik taksi. Abdul Fattah Abu Ismail
mengembalikannya sambil mengatakan, “Dakwah ini tidak akan dapat
dipikul oleh orang-orang yang manja.” Zainab pun menjawab, “Saya sering
ke mana-mana dengan taksi dan mobil-mobil mewah, tapi saya tetap dapat
memikul dakwah ini dan saya pun tidak menjadi orang yang manja terhadap
dakwah. Karena itu, pakailah ongkos ini, tubuhmu letih dan engkau
memerlukan istirahat sejenak.” Ia pun menjawab, “Berbahagialah ibu. Ibu
telah berhasil menghadapi ujian Allah swt. berupa kenikmatan-kenikmatan
itu. Namun, saya khawatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana
sikap ibu. Terima kasih atas kebaikan ibu. Biarlah saya naik kendaraan
umum saja.”
Duhai saudaraku yang dimuliakan Allah swt.
Itulah contoh orang yang telah membuktikan kesetiaannya pada
dakwah lantaran keyakinannya terhadap janji-janji Allah swt. Janji yang
tidak akan pernah dipungkiri sedikit pun. Allah swt. telah banyak
memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada
jalan dakwah berupa berbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat
dalam Al-Qur’an.
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah,
niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala
kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)- mu. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)
Dengan janji Allah swt. tersebut, orang-orang beriman tetap
bertahan mengarungi jalan dakwah ini. Dan mereka pun tahu bahwa
perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin
berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah swt.
kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang
membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Dan, mereka pun
tidak akan pernah mau merubah janji kepada-Nya.
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati
apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada
yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan
mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). (Al Ahzab: 23)
Wahai ikhwah kekasih Allah swt.
Pernah seorang pejuang Palestina yang telah berlama-lama
meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari
dukungan dunia dan dana diwawancarai. “Apa yang membuat Anda dapat
berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman?” Jawabnya,
karena perjuangan. Dan, dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka
lebih berarti untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan
karena dakwah dan perjuangan, kami pun mungkin tidak akan dapat
bertahan,” ungkapnya lirih.
Wahai saudaraku seiman dan seperjuangan
Aktivis dakwah sangat menyakini bahwa kesabaran yang ada pada
dirinyalah yang membuat mereka kuat menghadapi berbagai rintangan
dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita
dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan
orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini, belumlah seberapa.
Pengorbanan kita di hari ini masih sebatas pengorbanan waktu untuk
dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal khairiyah untuk kepentingan
dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang banyak. Dan
bentuk pengorbanan ecek-ecek lainnya yang telah kita lakukan. Coba
lihatlah pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan
sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda
yang berlawanan arah, lalu kuda itu dipukul untuk lari
sekencang-kencangnya hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar
dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima resiko
karena kesabaran yang ada pada dirinya.
Kesabaran adalah kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman
dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah
berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah
swt.
Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah
besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah
karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan
tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang
sabar. (Ali Imran: 146)
Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan
temukan kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan dakwah ini.
Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat
ini. Apakah kita dapat menyemai dakwah ini menjadi subur dengan
perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi
generasi yang hilang dalam sejarah dakwah ini.
Ingat, dakwah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh
orang-orang yang manja. Militansi aktivis dakah merupakan kendaraan
yang akan menghantarkan kepada kesuksesan. Semoga Allah menghimpun kita
dalam kebaikan. Wallahu’alam.
» Post Comment
Only registered users can write a comment. Please login or register.
» 7 Comments
1"Dr" at Sunday, 02 November 2008 10:32
Jzkkk,,, sejenak mengimbas betapa manjanya diri ini yang sentiasa sahaja berdolak dalik pabila tibanya seruan daawah apatah lagi seruan jihad qital di Jalan Allah....Allahuakbar..
2"tanya sikit" at Friday, 07 November 2008 01:31
macam mana pulak kalau orang tu nak berdakwah tapi tak de kebolehan, jadi dia buat setakat apa yang dia mampu jak...itu dikira sebagai manja?
3""kemampuan"" at Friday, 07 November 2008 09:05
bercakap ttg kemampuan, sebenarnya ia adalah terlalu subjektif. sejauh manakah kemampuan anda, dan kemampuan saya? adakah berbeza kemampuan kita di zaman sekarang dengan kemampuan yang ada pada para sahabat. jawapannya mudah. 1. allah tidak menzalimi hambanya dengan memberikan sesuatu kewajipan di luar batasan kemampuannya. nah, kita fahami bahwa yang allah taklifkan kepada kita, seperti mana yang di lakukan oleh generasi berada mmg berada di dalam ruang lingkup kemampuan kita. kerana sifat manusiawi pengorbanan mereka dahulu sama sahaja dengan apa yg kita miliki 2. kadang2 kita sendiri yang perlu lihat, kemampuan kita itu yang kadangkala terbatas di sebabkan kemasalan dan ketidakmahuan... bukannya kita tidak mampu. inilah orang2 yg manja, tiada inisiatif yang hanya berharap
4"hmm" at Tuesday, 11 November 2008 04:59
setiap orang ade kelebihan masing-masing sheikh. ade yang pandai berceramah. ade yang mahir dlm bidang teknikal ade yang mahir dalam bidang pengurusan. kenali potensi diri dan aplikasikan dalam kerja2 dakwah.Wallahu'alam
5"Wakaka" at Wednesday, 12 November 2008 10:40
Seakan terkena di batang hidung ana sendiri Masih banyak potensi diri yang tidak digunakan Harapnya kemanjaan kita bertempat WaLlahua'lam
6"ALLAHHUAKBAR!" at Thursday, 13 November 2008 04:19
semoga ana bukan dikalangan daie yang manja..
7"......" at Monday, 22 December 2008 06:05
Allahuakbar..
|